Digipulsa.com – Jakarta, teknologi pengisian daya mobil listrik terus berkembang untuk memangkas waktu pengisian baterai. BYD menghadirkan Flash Charging yang mampu menangani daya hingga 1.500 kilowatt (kW).
Teknologi tersebut hadir bersama Blade Battery generasi kedua. BYD merancang sistem ini untuk memberikan proses pengisian yang jauh lebih cepat dibandingkan metode pengisian cepat yang umum digunakan pada mobil listrik.
Dengan kemampuan tersebut, BYD mengklaim kendaraan yang memakai teknologi Flash Charging dapat mengisi baterai dari 10 persen hingga 70 persen dalam waktu sekitar lima menit. Bahkan, pengisian hingga 97 persen hanya membutuhkan sekitar sembilan menit.
BYD Flash Charging Bukan Sekadar Fast Charging
Fast charging secara umum memakai arus searah atau DC dengan daya lebih tinggi daripada pengisian AC. Metode ini membantu pengguna mengisi baterai mobil listrik dalam waktu lebih singkat.
Sementara itu, BYD Flash Charging menangani kebutuhan daya yang jauh lebih besar. Sistem tersebut menggunakan charger dengan output single connector hingga 1.500 kW.
Angka 1.500 kW menunjukkan kemampuan maksimum infrastruktur pengisian. Namun, mobil tidak otomatis menerima daya sebesar itu ketika terhubung ke charger.
Kemampuan pengisian tetap bergantung pada spesifikasi kendaraan, kapasitas baterai, sistem kelistrikan, serta batas daya yang dapat diterima mobil. Karena itu, kapasitas charger dan daya yang masuk ke baterai merupakan dua hal yang berbeda.
Daya Maksimum Mencapai 1.500 kW
BYD merancang Flash Charging dengan tegangan DC maksimum 1.000 volt. Selain itu, sistem ini memiliki kapasitas input hingga 2.100 kW untuk mendukung manajemen beban jaringan listrik.
Sementara kemampuan output single connector mencapai 1.500 kW. Konfigurasi tersebut membuat infrastruktur Flash Charging memiliki kemampuan daya yang jauh lebih besar dibandingkan sistem fast charging yang umum digunakan.
Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh kendaraan dapat menerima daya 1.500 kW. Sistem kendaraan tetap menentukan seberapa besar daya yang bisa masuk ke baterai pada kondisi tertentu.
Dengan demikian, kecepatan pengisian tidak hanya bergantung pada charger. Baterai dan sistem kelistrikan kendaraan juga memiliki peran penting dalam menentukan proses pengisian.
Isi Daya 10-70 Persen Sekitar Lima Menit
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada waktu pengisian. BYD menyebut kendaraan dengan Flash Charging dapat mengisi baterai dari 10 persen hingga 70 persen hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Selanjutnya, pengisian dari kondisi tersebut dapat terus berlanjut hingga mencapai 97 persen. BYD menyebut proses tersebut membutuhkan waktu sekitar sembilan menit.
Kemampuan ini memangkas waktu tunggu ketika pengguna perlu mengisi daya dalam perjalanan. Karena itu, teknologi pengisian berdaya tinggi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kendaraan listrik.
Meski begitu, pengguna tetap perlu melihat kemampuan mobil yang digunakan. Infrastruktur charger yang mampu menghasilkan daya besar tidak otomatis membuat setiap kendaraan menerima daya pada tingkat maksimum.
Tetap Bekerja pada Suhu Ekstrem
Selain mengejar kecepatan, BYD juga menyebut performa Flash Charging tetap terjaga pada kondisi suhu ekstrem. Klaim tersebut mencakup pengoperasian pada suhu hingga minus 30 derajat Celsius.
Pada kondisi tersebut, BYD menyebut pengisian dari 20 persen hingga 97 persen hanya membutuhkan tambahan waktu sekitar tiga menit dibandingkan kondisi suhu normal.
Hal ini menunjukkan bahwa suhu lingkungan menjadi salah satu faktor yang ikut diperhitungkan dalam kinerja sistem pengisian baterai. Namun, angka waktu pengisian tetap bergantung pada kondisi kendaraan dan sistem pengisian yang digunakan.
Perbedaan Utama Flash Charging dan Fast Charging
Secara sederhana, fast charging merupakan istilah umum untuk pengisian baterai mobil listrik menggunakan daya DC yang lebih tinggi daripada pengisian AC. Sementara itu, Flash Charging menawarkan kemampuan daya yang jauh lebih besar melalui infrastruktur khusus.
Perbedaan tersebut dapat dilihat dari kemampuan maksimum sistem. Flash Charging memiliki output single connector hingga 1.500 kW dan tegangan DC maksimum 1.000 volt.
Di sisi lain, angka daya charger tidak secara langsung menunjukkan daya yang diterima baterai. Kendaraan tetap memiliki batas kemampuan pengisian sesuai spesifikasi baterai dan sistem kelistrikannya.
Karena itu, pengguna perlu membedakan antara kemampuan infrastruktur pengisian dan kemampuan kendaraan menerima daya. Pemahaman tersebut penting agar angka daya charger tidak menimbulkan persepsi bahwa semua mobil listrik dapat mengisi baterai pada tingkat yang sama.
Pada akhirnya, BYD Flash Charging menawarkan pendekatan pengisian berdaya sangat tinggi dengan target memangkas waktu tunggu. Teknologi ini memadukan charger berdaya hingga 1.500 kW dengan Blade Battery generasi kedua.
Dengan waktu pengisian sekitar lima menit dari 10 persen hingga 70 persen dan sekitar sembilan menit hingga 97 persen, teknologi tersebut menunjukkan arah pengembangan baru pada sistem pengisian kendaraan listrik. Namun, kemampuan aktual tetap mengikuti spesifikasi kendaraan, baterai, serta infrastruktur yang tersedia.








