digipulsa.com – Jakarta, kredit perbankan Agustus tumbuh 13,56% secara tahunan atau year on year (YoY), dengan nilai penyaluran mencapai Rp9.178 triliun. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi di antara jenis kredit yang disebutkan, yakni 25,11% YoY.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan angka tersebut dalam Konferensi Pers RDKB, Senin (5/10/2026). Selain kredit investasi, kredit modal kerja tumbuh 11,45% YoY dan kredit konsumsi naik 5,07% YoY.
Data itu menunjukkan laju pertumbuhan berbeda pada setiap jenis kredit. Kredit investasi berada di posisi teratas, disusul kredit modal kerja, sedangkan kredit konsumsi mencatat pertumbuhan paling rendah di antara ketiganya. Secara keseluruhan, penyaluran kredit tetap tumbuh dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kredit investasi mencatat kenaikan tertinggi
Pertumbuhan kredit investasi sebesar 25,11% YoY melampaui angka pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 11,45% dan kredit konsumsi 5,07%. Ketiga angka tersebut menggambarkan pertumbuhan berdasarkan jenis penggunaan kredit yang disampaikan OJK.
Dian menyebutkan, “Kredit investasi tumbuh tertinggi dengan 25,11% (YoY), diikuti kredit modal kerja 11,45% (YoY), dan kredit konsumsi 5,07% (YoY).” Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers pada 5 Oktober 2026.
Besarnya pertumbuhan pada kredit investasi menjadi bagian yang menonjol dalam laporan perkembangan intermediasi perbankan Agustus. Namun, angka tersebut merupakan pertumbuhan tahunan, bukan nilai penyaluran khusus untuk kredit investasi. Materi yang disampaikan juga tidak merinci nilai rupiah masing-masing jenis kredit.
Kredit korporasi dan bank BUMN tumbuh paling besar
Jika dilihat dari sisi debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan terbesar, yaitu 22,18% YoY. Pada saat yang sama, kredit untuk UMKM melanjutkan pertumbuhan sebesar 2,38% YoY.
Dari sisi kepemilikan bank, kelompok bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,41% YoY. Angka ini merujuk pada pertumbuhan kredit berdasarkan kelompok kepemilikan, sementara data korporasi dan UMKM mengelompokkan kredit berdasarkan debitur.
Dengan demikian, angka-angka tersebut menggambarkan beberapa sudut berbeda dari perkembangan kredit Agustus: menurut jenis penggunaan, kategori debitur, dan kepemilikan bank. OJK menyampaikan pertumbuhan keseluruhan sebesar 13,56% YoY dengan penyaluran mencapai Rp9.178 triliun.
OJK menargetkan lima bank syariah berskala besar
Selain perkembangan kredit, OJK menargetkan keberadaan lima bank syariah dengan skala usaha mendekati PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) atau BRIS. Dian mengatakan proses menuju target tersebut sedang berjalan dan realisasinya diperkirakan tercapai paling lambat pada 2027.
Pernyataan itu disampaikan Dian setelah seremoni peluncuran Roadmap Pengembangan & Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I) di Bali, Jumat (2/10/2026). Ia menyebut kemungkinan realisasi target tersebut terjadi pada 2026 atau 2027.
“Saya ingin melihat ada lima bank yang paling tidak dekat dengan BSI, dan itu sedang mengarah ke sana. Nanti insya Allah mungkin kalau tidak 2026, 2027 realisasinya itu mungkin sudah tercapai,” ujar Dian.
Target lima bank syariah itu berkaitan dengan skala usaha, bukan angka pertumbuhan kredit Agustus. Dalam keterangannya, Dian menyebut BSI sebagai pembanding dan mengatakan proses menuju target sedang berlangsung. Ia tidak merinci nama bank lain yang berpotensi mencapai skala tersebut.
Secara terpisah, data kredit Agustus mencatat pertumbuhan paling tinggi pada kredit investasi, kredit korporasi, dan kelompok bank BUMN dalam masing-masing kategori yang disampaikan. Sementara itu, OJK memperkirakan target pengembangan bank syariah berskala besar dapat tercapai paling lambat pada 2027.








